Sudah bukan rahasia lagi, bahwa pesantren merupakan lembaga
pendidikan keislaman tertua ditanah air. Dirintis sejak masa wali songo,
pesantren secara teratur terus menelurkan tokoh-tokoh penting negeri ini mulai
dari KH Hasyim Asy’ari, KH Wachid Hasyim, KH Wahab Chasbullah, KH Abdurrohman
Wahid, dan masih banyak lagi.
Hal ini dikarenakan pesantren -apapun
itu baik yang jelas-jelas menggunakan kata pondok ataupun hanya boarding school
namun tetap menjadikan pendidikan keagamaan sebagai dasarnya- memiliki banyak
nilai-nilai unik yang setiap hari dibiasakan atau bahasa kerennya ditarbiyahkan
kepada para santri sehingga ketika keluar mampu menjadi pribadi yang mumtaz
atau sempurna dari aspek agama –hablum minallah- akan tetapi tetap jayyid
atau bagus dalam bersosialisasi –hablum minannas-. Nilai-nilai itu
antara lain Kejujuran, multikulturalisme, toleransi, saling menghargai,
leadership, dan lain sebagainya yang menempa para santri dalam kehidupan
sehari-harinya.
Namun ironisnya sobat, masyarakat
Indonesia umumnya masih sungkan untuk membuka diri akan pesantren. Justru malah
komentar sinis, hingga pandangan sebelah mata yang terlontar tiap kali
mendengan kata pesantren. Padahal pesantren lebih dari itu, tak sekedar shalawatan
atau yasinan. Di pesantren kita diajarkan akan nilai-nilai keislaman yang
hakikatnya kamil dan syamil, yaitu sempurna dan menyeluruh, jadi
gak hanya pokok-pokok ibadah saja, namun juga hubungan dengan sesama manusia
juga diajarkan, seperti prinsip multicultural, toleransi, saling menghargai,
berbagi, dan sebagainya. Padahal nilai-nilai seperti tadi yang harusnya die-ejawantahkan
di tanah Indonesia, dan pesantren telah memberikan gambaran bagaimana
seharusnya pembumian nilai-nilai tadi.
Lantas mengapa dengan begitu banyaknya
pesantren di Indonesia, namun perubahan itu belum juga terasa benar? Antara lain
ialah karena belum massifnya pembumian nilai-nilai tadi dalam kehidupan kita
sehari-hari. Dan disini, Fatah akan sedikit mengajak sobat sekalian untuk
memahami nilai-nilai kepesantrenan tadi untuk dapat diejawantahkan dalam
kehidupan.
so, here we go :)

0 komentar:
Posting Komentar