Senin, 20 Oktober 2014 0 komentar

Parlemen Remaja - Perjuangan menjadi Muslim Negarawan

Assalamu’alaikum, ahlan wa sahlan.

Disini Gue mau cerita tentang pengalaman Gue jadi salah satu peserta Parlemen Remaja (Parja) 2014. Bai de wei, parja itu sendiri suatu event tahunan yang diselenggarakan oleh biro humas DPR RI bekerja sama dengan Universitas Indonesia yang mempertemukan siswa-siswa seluruh Indonesia guna mengenalkan kepada para peserta tentang mekanisme, hak-kewajiban, serta serba-serbi DPR sob.

Oke lanjut ke asal mula Gue kenal Parja. Alkisah, cielah bahasanya haha. Jadi Gue masih ingat dulu sekitaran Januari 2014, Gue dapet pesan dari temen Gue dari Pangkal Pinang (kalau gatau pangkal pinang, doi tuh nama salah satu kota di Bangka Belitung sob) yang namanya Aulia Firdiana, intinya tuh dia nantengin Gue buat ikut Parja 2014, supaya bisa meet up di Jekardah. Akhirnya karena merasa tertarik dan tertantang, Gue akhirnya nyoba-nyoba aja tuh nyari info tentang Parja 2014.

Akhirnya, sekitaran februari 2014 akhirnya Gue nemuin artikel mengenai Parja di Internet. Menurut informasi yang tertera, jadi Gue harus nyusun essai dulu, lantas dikirim ke panitia untuk diseleksi, jika lulus maka akan diberangkatkan ke Jekardah. Pas baca kata Jekardah, seketika langsung semangat dah. Maklum, hampir 10 tahun tinggal di luar Jawa, menjadikan apa-apa yang berbau ibu kota itu selalu menarik. Akhirnya Gue pun nyoba nyusun essainya, temanya dulu tuh “Kenali Budayamu, Cintai Negerimu”.

Maka dimulailah proses panjang itu, penulisan essai. Prosesnya menjadi lama dan sulit karena jujur Gue masih awam dan hijau soal masalah tulis menulis, apalagi yang berbau ‘ilmiah’. Hal itu diperparah dengan tak adanya guru/mentor serta support dari pihak sekolah dalam penyusunan essai tersebut. Alhasil jadilah Gue seorang diri dalam menyusun essai tersebut. Tapi bukan Gue namanya jika lantas berputus asa, cielah. Akhirnya dipenghujung bulan Maret, rampunglah essai 4 lembar tersebut. Sungguh perjuangan yang maha berat.

Kesalahan Tema, Wujud Sayang Allah.

Namun ternyata Allah punya rencana lain. Diawal bulan April, saat itu tengah liburan pasca UTS kami yang mondok diberi libur sepekan. Pas itu lagi asik-asiknya internetan di laptop, tiba-tiba si aulia nongol di twitter setelah lama putus kontak. Tanpa ba bi bu, yang pertama ditanyain “gimana essai lo?”. Dalam hati gue bersyukur untung tempo hari dah gue selesain, kalau gak yah tengsin gue ntar dikata-katain Aul. Dengan bangganya gue langsung reply “udah dong, lo gimana?”, gak lama dia langsung mention balik “belum” nah disini gue udah mulai ketawa nih, gajadi tengsin dah haha. Buru-buru gue bales yang intinya gue tanyain kenapa belum selesai. Akhirnya dia bales “susah tah, btw itu temanya tuh    ……      “. Seketika pas baca gue langsung check ke situs resminya, dan benar, essai gue salah tema.

Seketika lemas dah gue, langsung kebayang deh segala perjuangan sebulan terakhir bakalan hangus sia-sia. Segala pengorbanan waktu, tenaga, fikiran hingga uang yang tak sedikit bakalan ga berguna. Gue lemas, putus asa. Tapi ajaib, ditengah keputus-asaan itu, ada semacam seruan untuk gue supaya mencoba bangkit. Buru-buru Laptop yang masih menyala gue tinggal, bergegas mengambil wudhu. Aku tau kepada siapa aku harus bercerita, dia yang tak pernah membuatku kecewa. Gue bangkit, gue sholat.

Bismillah gue ga boleh nyerah, Allah gak akan ngubah hidup gue, kecuali gue sendiri yang berniat mengubahnya, Man Jadda Wa jada!. Cuma itu, motivasi yang gue dapetin tepat ketika gue selesai sholat. Dan entah, kalimat spontan yang gue tau tafsiran dari salah satu ayat dalam Al-Qur’an itu bagi gue ngalahin segala kata-kata mutiara yang gue pernah denger, ngalahin segala quote dari para orang bijak yang gue baca. Seketika itu pula segala rasa putus asa tadi lenyap, semua problem ini ga boleh bikin gue mundur. Bismillah, gue ga boleh nyerah.

Selepas itu gue langsung berhitung dengan waktu. Gue masih ingat hari itu tanggal 7 April, dan batas pengumpulan berkas tanggal 23 April. Awalnya gue ciut, mepet banget begitu batin gue. Tapi gue mantepin lagi, keberhasilan-keberhasilan besar ga mungkin datang tanpa masalah-masalah besar pula. Dan masalah besar gue adalah kesalahan tema dalam penulisan essai, kalau hanya dengan itu gue nyerah, gue ga mungkin bisa berhasil untuk ikut Parlemen Remaja. Sejurus kemudian gue ambil lagi laptop yang daritadi terabaikan, gue tau ini momentum, momentum bangkit pasca kegagalan. Dan gue tau satu-satunya hal yang harus gue lakukan : ga boleh ragu. Sekarang atau tidak selamanya!.

Mulai deh gue browsing di Internet mengenai apa aja yang berkaitan dengan tema yang baru.  Jujur aja gue waktu itu bingung banget, waktu mepet terus gue sama sekali gapunya ide buat nulis apa. Gue mencoba tenang, rileks. Berharap ide cemerlang bakalan muncul, agak lama gue muter otak, coba aja nanya sama Pak Irwan, gue langsung teringat ama guru IPS gue pas SMP dulu. Buru-buru gue ambil hape, langsung sms beliau.

Balesannya baru sampai esok hari. Setelah sisa malam gue habiskan dengan mencoba mencari ide sendiri, akhirnya datang juga balasan yang dinanti. “coba gali tentang hubungan gotong royong dengan demokrasi”. Bingo!, kenapa ga kepikiran batin gue. Akhirnya gue nyalain laptop sambil bergumam, malam ini kita lembur kawan, prepare urself.

Proses penulisan ulang ini ternyata membawa berkah tersendiri bagi gue. Karena terpaksa menyusun ulang essainya, gue jadi bisa merekontruksi essai gue yang sebelumnya masih banyak kekurangan. Selain itu, dalam prosesnya, karena kepepet keadaan gue jadi berusaha nyari teman dan koneksi yang siapa tau bisa bantu ngasih idea tau member koreksi terhadap essai gue. Alhasil kenallah gue dengan beberapa peserta Parja 2013 yang tentunya banyak member masukan tentang essai gue.

Naskah kasar essai selesai tepat hari ahad saat jadwal keluar pondok, pertengahan April masih sempat Insya Allah batin gue. Namun karena merasa banyak kekurangan, hari ahad itu kuputuskan untuk dikoreksi oleh dua mbak gue, mbak Nadhilah Andriani dari Universitas Andalas, ama Mbak Nanda Maulida yang tahun lalu ikut Parja juga. Mbak Nadhilah koreksi berbagai kesalahan tanda baca, sedang mbak Nanda memberi masukan tentang essainya, fikirku tahun lalu kan dia lolos Parja jadi pasti tau lah standartnya Parja tuh kayak gimana.

Proses koreksi itu berlangsung hingga mendekati akhir masa pengumpulan berkas, hal ini dikarenakan masih banyaknya kekurangan yang terdapat dalam essainya. Berkali-kali gue terpaksa kabur dari pondok, buat nyelesain koreksi dari mbak Nanda maupun Aulia yang kuajak untuk menjadi editor essaiku. Maklumlah, karena aku mondok jadi fasilitas-fasilitas pendukung untuk kegiatan siswa itu termasuk kurang. Netbook asrama sebenarnya ada, namun karena hanya ada satu, jadi menggunakannya harus bergantian dengan teman yang lain.

Tanggal 22 April, tepat sehari sebelum batas pengumpulan berkas, aku nekat minta izin ke pihak sekolah untuk mengirimkan berkasku. Hal ini terjadi karena pihak panitia meminta dua jenis berkas yaitu hardcopy yang dikirimkan via pos ke secretariat panitia serta softcopy yang dikirimkan via email. Alhamdulillah diberi izin, bahkan kepala sekolah memberi alamat penyedia jasa pengiriman yang dekat dengan sekolah.

Ternyata Ia Punya Skenario Lain

Selesai mengirimkan hardcopynya, aku masih harus mengirimkan softcopynya kepada panitia. Maka selepas bel pulang sekolah, bergegas aku ke warnet untuk mengirimkan berkasku. Namun ternyata Allah masih berniat menguji kesungguhanku sekali lagi. Flashdisk yang kupakai untuk menyimpan softcopy berkasku ternyata terserang virus yang mengakitbatkan fileku tak dikenali oleh MS. Word. Sebuah pukulan telak di masa injury time yang menentukan, buru-buru kuhubungi panitia minta diberi keringanan. Nihil, panitia berdalih bahwa softcopynya juga sama pentingnya, selain itu softcopynya juga dipakai untuk menyusun buku gabungan essai peserta Parja yang lolos seleksi.

Tanganku dingin, langsung kuselesaikan billing internetku, berlari menyetop angkot kembali ke pondok. Aku tau kepada siapa aku harus bercerita, dia yang tak pernah membuatku kecewa. Maka di masjid pondok, gue bersimpuh, sungguh berat kenyataan yang harus dihadapi. Tapi ajaib, tepat selepas sholat, tiba-tiba muncul ide yang gue pun bingung nafsirin antara ide brilian atau nekat. Tapi satu-satunya yang ada difikiran gue saat itu hanya “gue harus nulis lagi seluruh berkas gue!”. Maka dimulailah pekerjaan gila itu, bergegas gue kembali ke dorm cerita masalahnya ke temen-temen. Mereka manggut-manggut, ga banyak tanya, mengerti yang harus mereka kerjakan. Rosyid si Rois atau ketua langsung minta ke temen-temen yang bawa laptop ngambil laptopnya, dan bantuin gue nulis ulang semua berkas yang dibutuhin.

Dan mukjizat pun terjadi, berkas-bekas yang terdiri atas essai, form pendaftaran, dan biodata diri yang terdiri dari 1000 kata serta kelengkapan lainnya dapat tuntas diketik kembali dalam waktu kurang dari 3 jam. What a unforgotten moment, gue ngelap keringat, nyaris sekali. Malamnya, gue nyelinap keluar dari kompleks dorm , untuk ngirimin berkas softfile gue ke panitia. Klik, tepat saat selesai mengirimkan berkas, gue sujud syukur. Tak henti-hentinya berdizikir memuji asmanya, bersyukur atas segala drama luar biasa hari ini.

Pengumuman kelulusan sendiri baru ada sekitar pertengahan Mei . Pas lagi itu gue lagi sibuk-sibuknya bikin video promosi sekolah gue bareng si Rosyid. Dan karena kesibukan itu pula, jadi lupa banget ama pengumuman lulus seleksi Parja. Baru sekitar jam 9 malam gue iseng-iseng buka twitter, eh ada mention dari aul. Gue kira awalnya ga penting, gue liat tulisannya gini “eh, lo udah liat pengumumannya belom?”. Lucunya, gue masih sempat bingung, pengumuman apa yah? Pikir gue malem itu.Gue baru inget soal pengumumannya pas salah satu temen nanyain gue lulus Parja ata nggak setengah jam setelahnya. Plak, gue nepok jidat, kok yang diusahain mati-matian tempo hari bsa gue lupain yah? Hahaha. Akhirnya gue buka situsnya Parja, dan ternyata memang disitu sudah dipost pengumuman kelulusannya sejak siang. Langsung gue buka dan melolototin layar laptop bareng si Rosyid, gemeteran takut nama gue gak ada.


Daaan, eureka! Speechless gue lihat nama gue di daftar kelulusan, Alhamdulillah. Segera gue sujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah malam ini, dan tak lupa pula gue meluk si Rosyid buat segala bantuannya. Malam itu hati gue mengharu biru, haha. Ya Allah Gue LULUS!.
0 komentar

Pesantren untuk Indonesia.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan keislaman tertua ditanah air. Dirintis sejak masa wali songo, pesantren secara teratur terus menelurkan tokoh-tokoh penting negeri ini mulai dari KH Hasyim Asy’ari, KH Wachid Hasyim, KH Wahab Chasbullah, KH Abdurrohman Wahid, dan masih banyak lagi.

Hal ini dikarenakan pesantren -apapun itu baik yang jelas-jelas menggunakan kata pondok ataupun hanya boarding school namun tetap menjadikan pendidikan keagamaan sebagai dasarnya- memiliki banyak nilai-nilai unik yang setiap hari dibiasakan atau bahasa kerennya ditarbiyahkan kepada para santri sehingga ketika keluar mampu menjadi pribadi yang mumtaz atau sempurna dari aspek agama –hablum minallah- akan tetapi tetap jayyid atau bagus dalam bersosialisasi –hablum minannas-. Nilai-nilai itu antara lain Kejujuran, multikulturalisme, toleransi, saling menghargai, leadership, dan lain sebagainya yang menempa para santri dalam kehidupan sehari-harinya.

Namun ironisnya sobat, masyarakat Indonesia umumnya masih sungkan untuk membuka diri akan pesantren. Justru malah komentar sinis, hingga pandangan sebelah mata yang terlontar tiap kali mendengan kata pesantren. Padahal pesantren lebih dari itu, tak sekedar shalawatan atau yasinan. Di pesantren kita diajarkan akan nilai-nilai keislaman yang hakikatnya kamil dan syamil, yaitu sempurna dan menyeluruh, jadi gak hanya pokok-pokok ibadah saja, namun juga hubungan dengan sesama manusia juga diajarkan, seperti prinsip multicultural, toleransi, saling menghargai, berbagi, dan sebagainya. Padahal nilai-nilai seperti tadi yang harusnya die-ejawantahkan di tanah Indonesia, dan pesantren telah memberikan gambaran bagaimana seharusnya pembumian nilai-nilai tadi.


Lantas mengapa dengan begitu banyaknya pesantren di Indonesia, namun perubahan itu belum juga terasa benar? Antara lain ialah karena belum massifnya pembumian nilai-nilai tadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan disini, Fatah akan sedikit mengajak sobat sekalian untuk memahami nilai-nilai kepesantrenan tadi untuk dapat diejawantahkan dalam kehidupan.

so, here we go :)
 
;