Assalamu’alaikum, ahlan wa sahlan.
Disini Gue mau cerita tentang pengalaman Gue jadi salah satu
peserta Parlemen Remaja (Parja) 2014. Bai de wei, parja itu sendiri suatu event
tahunan yang diselenggarakan oleh biro humas DPR RI bekerja sama dengan
Universitas Indonesia yang mempertemukan siswa-siswa seluruh Indonesia guna
mengenalkan kepada para peserta tentang mekanisme, hak-kewajiban, serta
serba-serbi DPR sob.
Oke lanjut ke asal mula Gue kenal Parja. Alkisah, cielah
bahasanya haha. Jadi Gue masih ingat dulu sekitaran Januari 2014, Gue dapet
pesan dari temen Gue dari Pangkal Pinang (kalau gatau pangkal pinang, doi tuh
nama salah satu kota di Bangka Belitung sob) yang namanya Aulia Firdiana,
intinya tuh dia nantengin Gue buat ikut Parja 2014, supaya bisa meet up di
Jekardah. Akhirnya karena merasa tertarik dan tertantang, Gue akhirnya
nyoba-nyoba aja tuh nyari info tentang Parja 2014.
Akhirnya, sekitaran februari 2014 akhirnya Gue nemuin artikel
mengenai Parja di Internet. Menurut informasi yang tertera, jadi Gue harus
nyusun essai dulu, lantas dikirim ke panitia untuk diseleksi, jika lulus maka
akan diberangkatkan ke Jekardah. Pas baca kata Jekardah, seketika langsung
semangat dah. Maklum, hampir 10 tahun tinggal di luar Jawa, menjadikan apa-apa
yang berbau ibu kota itu selalu menarik. Akhirnya Gue pun nyoba nyusun
essainya, temanya dulu tuh “Kenali Budayamu, Cintai Negerimu”.
Maka dimulailah proses panjang itu, penulisan essai.
Prosesnya menjadi lama dan sulit karena jujur Gue masih awam dan hijau soal
masalah tulis menulis, apalagi yang berbau ‘ilmiah’. Hal itu diperparah dengan
tak adanya guru/mentor serta support dari pihak sekolah dalam penyusunan essai
tersebut. Alhasil jadilah Gue seorang diri dalam menyusun essai tersebut. Tapi
bukan Gue namanya jika lantas berputus asa, cielah. Akhirnya dipenghujung bulan
Maret, rampunglah essai 4 lembar tersebut. Sungguh perjuangan yang maha berat.
Kesalahan Tema, Wujud Sayang Allah.
Namun ternyata Allah punya rencana lain. Diawal bulan April,
saat itu tengah liburan pasca UTS kami yang mondok diberi libur sepekan. Pas
itu lagi asik-asiknya internetan di laptop, tiba-tiba si aulia nongol di
twitter setelah lama putus kontak. Tanpa ba bi bu, yang pertama ditanyain “gimana
essai lo?”. Dalam hati gue bersyukur untung tempo hari dah gue selesain, kalau
gak yah tengsin gue ntar dikata-katain Aul. Dengan bangganya gue langsung reply
“udah dong, lo gimana?”, gak lama dia langsung mention balik “belum” nah disini
gue udah mulai ketawa nih, gajadi tengsin dah haha. Buru-buru gue bales yang
intinya gue tanyain kenapa belum selesai. Akhirnya dia bales “susah tah, btw
itu temanya tuh …… “. Seketika pas baca gue langsung check
ke situs resminya, dan benar, essai gue salah tema.
Seketika lemas dah gue, langsung kebayang deh segala
perjuangan sebulan terakhir bakalan hangus sia-sia. Segala pengorbanan waktu,
tenaga, fikiran hingga uang yang tak sedikit bakalan ga berguna. Gue lemas,
putus asa. Tapi ajaib, ditengah keputus-asaan itu, ada semacam seruan untuk gue
supaya mencoba bangkit. Buru-buru Laptop yang masih menyala gue tinggal,
bergegas mengambil wudhu. Aku tau kepada siapa aku harus bercerita, dia yang
tak pernah membuatku kecewa. Gue bangkit, gue sholat.
Bismillah gue ga boleh nyerah, Allah gak akan ngubah hidup
gue, kecuali gue sendiri yang berniat mengubahnya, Man Jadda Wa jada!. Cuma
itu, motivasi yang gue dapetin tepat ketika gue selesai sholat. Dan entah,
kalimat spontan yang gue tau tafsiran dari salah satu ayat dalam Al-Qur’an itu
bagi gue ngalahin segala kata-kata mutiara yang gue pernah denger, ngalahin
segala quote dari para orang bijak
yang gue baca. Seketika itu pula segala rasa putus asa tadi lenyap, semua
problem ini ga boleh bikin gue mundur. Bismillah,
gue ga boleh nyerah.
Selepas itu gue langsung berhitung dengan waktu. Gue masih
ingat hari itu tanggal 7 April, dan batas pengumpulan berkas tanggal 23 April.
Awalnya gue ciut, mepet banget begitu
batin gue. Tapi gue mantepin lagi, keberhasilan-keberhasilan besar ga mungkin
datang tanpa masalah-masalah besar pula. Dan masalah besar gue adalah kesalahan
tema dalam penulisan essai, kalau hanya dengan itu gue nyerah, gue ga mungkin
bisa berhasil untuk ikut Parlemen Remaja. Sejurus kemudian gue ambil lagi
laptop yang daritadi terabaikan, gue tau ini momentum, momentum bangkit pasca
kegagalan. Dan gue tau satu-satunya hal yang harus gue lakukan : ga boleh ragu.
Sekarang atau tidak selamanya!.
Mulai deh gue browsing di Internet mengenai apa aja yang
berkaitan dengan tema yang baru. Jujur
aja gue waktu itu bingung banget, waktu mepet terus gue sama sekali gapunya ide
buat nulis apa. Gue mencoba tenang, rileks. Berharap ide cemerlang bakalan
muncul, agak lama gue muter otak, coba
aja nanya sama Pak Irwan, gue langsung teringat ama guru IPS gue pas SMP
dulu. Buru-buru gue ambil hape, langsung sms beliau.
Balesannya baru sampai esok hari. Setelah sisa malam gue
habiskan dengan mencoba mencari ide sendiri, akhirnya datang juga balasan yang
dinanti. “coba gali tentang hubungan gotong royong dengan demokrasi”. Bingo!, kenapa ga kepikiran batin gue.
Akhirnya gue nyalain laptop sambil bergumam, malam ini kita lembur kawan, prepare
urself.
Proses penulisan
ulang ini ternyata membawa berkah tersendiri bagi gue. Karena terpaksa menyusun
ulang essainya, gue jadi bisa merekontruksi essai gue yang sebelumnya masih
banyak kekurangan. Selain itu, dalam prosesnya, karena kepepet keadaan gue jadi
berusaha nyari teman dan koneksi yang siapa tau bisa bantu ngasih idea tau
member koreksi terhadap essai gue. Alhasil kenallah gue dengan beberapa peserta
Parja 2013 yang tentunya banyak member masukan tentang essai gue.
Naskah kasar essai selesai tepat hari ahad saat jadwal
keluar pondok, pertengahan April masih
sempat Insya Allah batin gue. Namun karena merasa banyak kekurangan, hari
ahad itu kuputuskan untuk dikoreksi oleh dua mbak gue, mbak Nadhilah Andriani
dari Universitas Andalas, ama Mbak Nanda Maulida yang tahun lalu ikut Parja
juga. Mbak Nadhilah koreksi berbagai kesalahan tanda baca, sedang mbak Nanda
memberi masukan tentang essainya, fikirku tahun lalu kan dia lolos Parja jadi
pasti tau lah standartnya Parja tuh kayak gimana.
Proses koreksi itu berlangsung hingga mendekati akhir masa
pengumpulan berkas, hal ini dikarenakan masih banyaknya kekurangan yang
terdapat dalam essainya. Berkali-kali gue terpaksa kabur dari pondok, buat
nyelesain koreksi dari mbak Nanda maupun Aulia yang kuajak untuk menjadi editor
essaiku. Maklumlah, karena aku mondok jadi fasilitas-fasilitas pendukung untuk
kegiatan siswa itu termasuk kurang. Netbook asrama sebenarnya ada, namun karena
hanya ada satu, jadi menggunakannya harus bergantian dengan teman yang lain.
Tanggal 22 April, tepat sehari sebelum batas pengumpulan
berkas, aku nekat minta izin ke pihak sekolah untuk mengirimkan berkasku. Hal
ini terjadi karena pihak panitia meminta dua jenis berkas yaitu hardcopy yang
dikirimkan via pos ke secretariat panitia serta softcopy yang dikirimkan via
email. Alhamdulillah diberi izin, bahkan kepala sekolah memberi alamat penyedia
jasa pengiriman yang dekat dengan sekolah.
Ternyata Ia Punya Skenario Lain
Selesai mengirimkan hardcopynya, aku masih harus mengirimkan
softcopynya kepada panitia. Maka selepas bel pulang sekolah, bergegas aku ke
warnet untuk mengirimkan berkasku. Namun ternyata Allah masih berniat menguji
kesungguhanku sekali lagi. Flashdisk
yang kupakai untuk menyimpan softcopy berkasku ternyata terserang virus yang
mengakitbatkan fileku tak dikenali oleh MS. Word. Sebuah pukulan telak di masa injury time yang menentukan, buru-buru
kuhubungi panitia minta diberi keringanan. Nihil, panitia berdalih bahwa
softcopynya juga sama pentingnya, selain itu softcopynya juga dipakai untuk
menyusun buku gabungan essai peserta Parja yang lolos seleksi.
Tanganku dingin, langsung kuselesaikan billing internetku, berlari menyetop angkot kembali ke pondok. Aku
tau kepada siapa aku harus bercerita, dia yang tak pernah membuatku kecewa.
Maka di masjid pondok, gue bersimpuh, sungguh berat kenyataan yang harus
dihadapi. Tapi ajaib, tepat selepas sholat, tiba-tiba muncul ide yang gue pun
bingung nafsirin antara ide brilian atau nekat. Tapi satu-satunya yang ada
difikiran gue saat itu hanya “gue harus nulis lagi seluruh berkas gue!”. Maka
dimulailah pekerjaan gila itu, bergegas gue kembali ke dorm cerita masalahnya ke temen-temen. Mereka manggut-manggut, ga
banyak tanya, mengerti yang harus mereka kerjakan. Rosyid si Rois atau ketua langsung minta ke
temen-temen yang bawa laptop ngambil laptopnya, dan bantuin gue nulis ulang
semua berkas yang dibutuhin.
Dan mukjizat pun terjadi, berkas-bekas yang terdiri atas
essai, form pendaftaran, dan biodata diri yang terdiri dari 1000 kata serta
kelengkapan lainnya dapat tuntas diketik kembali dalam waktu kurang dari 3 jam.
What a unforgotten moment, gue ngelap keringat, nyaris sekali. Malamnya, gue
nyelinap keluar dari kompleks dorm , untuk ngirimin berkas
softfile gue ke panitia. Klik, tepat saat selesai mengirimkan berkas,
gue sujud syukur. Tak henti-hentinya berdizikir memuji asmanya, bersyukur atas
segala drama luar biasa hari ini.
Pengumuman kelulusan sendiri baru ada sekitar pertengahan Mei . Pas lagi itu gue lagi sibuk-sibuknya bikin
video promosi sekolah gue bareng si Rosyid. Dan karena kesibukan itu pula, jadi
lupa banget ama pengumuman lulus seleksi Parja. Baru sekitar jam 9 malam gue
iseng-iseng buka twitter, eh ada mention dari aul. Gue kira awalnya ga penting,
gue liat tulisannya gini “eh, lo udah liat pengumumannya belom?”. Lucunya, gue
masih sempat bingung, pengumuman apa yah? Pikir gue malem itu.Gue baru inget soal pengumumannya pas salah satu temen nanyain gue lulus Parja ata nggak setengah jam setelahnya. Plak, gue nepok jidat, kok yang diusahain mati-matian tempo hari bsa gue lupain yah? Hahaha. Akhirnya gue buka situsnya Parja, dan ternyata memang disitu sudah dipost pengumuman kelulusannya sejak siang. Langsung gue buka dan melolototin layar laptop bareng si Rosyid, gemeteran takut nama gue gak ada.
Daaan, eureka! Speechless
gue lihat nama gue di daftar kelulusan, Alhamdulillah. Segera gue sujud syukur
atas nikmat yang diberikan Allah malam ini, dan tak lupa pula gue meluk si
Rosyid buat segala bantuannya. Malam itu hati gue mengharu biru, haha. Ya Allah
Gue LULUS!.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact